Catatan Liburan Lebaran

Seperti yang sudah saya posting sebelumnya kalau saya menghabiskan waktu liburan lebaran di kampung orang tua kandung saya di Ampel-Boyolali, sebuah kote kecil diantara Salatiga dan Solo.

Walaupun mayoritas keluarga kami non muslim tetapi liburan lebaran tetap merupakan hari yang paling ramai karena semua orang merayakan dan berkumpul di kampung sehingga seluruh keluarga memilih liburan lebaran sebagai salah satu hari untuk bersilaturahmi.

Keluarga dari bapak lumayan besar karena simbah mempunyai anak sampai delapan orang. Dan berkumpul bersama sepupu-sepupu terutama yang masih kecil-kecil sangat menyenangkan.

Kalau dikampung kita ada tradisi yang bernama bodo, dimana yang muda mengunjungi rumah yang paling tua untuk bersilaturahmi. Tahun ini tetap sama, kita sekeluarga minus pakde dan simbah yang memang dituakan di kampung muter-muter kampung beramai-ramai dengan bapak sebagai kepala sukunya.

Saya bersyukur masih bisa mempelajari sungkem ala orang jawa dan saya lakukan tidak hanya dengan keluarga yang dekat tetapi juga keluarga yang agak jauh.

Saya pikir harus juga mulai mengenali saudara-saudara jauh saya, kalau tidak dimasa yang akan datang siapa pula yang akan saling bersilaturahmi?

O iya, makanan favorit lebaran saya yaitu mentok-sejenis bebek. Pakde di kampung punya peternakan mentok jadi kalo pulang ke Ampel daging mentok selalu jadi inceran pertama saya untuk diembat.

Jadi apa makanan favorit kamu sewaktu lebaran kemarin?

19 thoughts on “Catatan Liburan Lebaran

  1. Waktu lebaran kemarin makanan melimpah ruah, tp saya cuma makan rendang doang. rendanggg terus.. kekeke… soalnya selama di Jkt ga pernah mkaan rendang.

  2. perut gw malah gak muat lalgi makan2…gw rekor bisa datengin 20’an rumah dlm sehari..n tiap rumah makannnnnnnn…:(….lontong kek baso kek soto kek n minimal ada di 2rumah cman minum euy..minta nyerah ke tuan rumah….

  3. Aku benci gak pernah dikenalin ama keluarga dari pihak bapak dan ibu, dan aku gak banyak tau siapa sepupu-sepupu dan keponakan-keponakan. Cuma sebatas mereka-mereka yang sering kami kunjungi.

    Kenapa kadang orang tua harus segitunya mempertahankan harga diri mereka sih??

    *curhat colongan*

    sing sabar ya kris

  4. Saya pikir harus juga mulai mengenali saudara-saudara jauh saya, kalau tidak dimasa yang akan datang siapa pula yang akan saling bersilaturahmi?

    Bener juga ya.. Aku juga gak begitu kenal sama saudara-saudara jauhku.. Ingin sebetulnya kenalan..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *