Setelah membaca postingan Jie jadi pengen cerita pengalaman gegar budaya waktu saya Β tinggal di Jepang sebentar tahun 2004.

Tentu saja tinggal di negri orang yang berbeda budayanya pasti akan membuat kita gegar budaya dengan beberapa kebiasaan yang sama sekali berbeda dengan budaya dimana kita tinggal. Dan saya tidak menyangka bahwa gegar budaya saya yang paling besar adalah dengan toilet.

Saya termasuk pencinta budaya jepang dan pemakan segala, jadi kebanyakan budaya di jepang dengan segala makanan dan budaya minuman kerasnya tidak ada masalah dengan saya.

Hal ini berbeda ketika berhadapan dengan yang namanya toilet. Seumur-umur saya memang pengguna toilet tradisional Indonesia dengan menggunakan gayung dan segala tetek bengeknya.

Ketika masuk dalam toilet rumah keluarga homestay saya bentuknya kira-kira seperti gambar dibawah ini

(gambar dari sini)
Sama persis, dibelakangnya ada jendela, dibawah dilapisi dengan karpet beludru. Yang membedakan hanya lemari disamping kiri itu diganti dengan lemari buku.

Sungguh agak pusing bagaimana cara menggunakan toilet yang lebih mirip perpustakaan kecil itu daripada sebuah kamar kecil. Pertamakali menggunakan toilet tersebut saya berpikir selama setengah jam bagaimana supaya tidak mengotori/membasahi karpet toilet. Tidak mungkin khan menyiram air cebok seperti di Indonesia? Mungkin hal ini lucu tetapi saya memang tidak pernah menggunakan tisu toilet Β seumur hidup saya sebelum itu.

Jadilah saya menemukan tehnik membasahkan tisunya terlebih dahulu sebelum membersihkan …..maaf …. pantat saya hahahaha~

Dasar orang indonesia gelo yang terlalu percaya diri, saya agak segan untuk bertanya bagaimana menggunakan toilet kepada tuan rumah karena selain terlalu PD, orang tua teman sayapun tidak bisa berbahasa inggris dan sayapun waktu itu sampai sekarang belum bisa berbahasa jepang yang baik dan benar. Jadi setelah setengah jam menahan buang air besar akhirnya saya menemukan tehnik yang amat sangat brilian tersebut hahahaha~.

Tehnik membasahi tisu terlebih dahulu membuat tidak membasahi karpet toilet sekaligus memberikan kepercayaan diri kalau pantat saya benar-benar bersih setelah dibersihkan hanya dengan tisu.

Gegar budaya saya yang kedua adalah dengan toilet kantor. Kantor tempat saya magang adalah perusahaan makanan ketiga terbesar di Jepang waktu itu sehingga semua kebersihan dijaga dengan standar yang amat tinggi termasuk toilet.

Waktu masuk toilet pertamakali….wih….pintunya menggunakan sensor sehingga terbuka otomatis ketika kita mendekati pintu kamar kecil.

Melihat toilet…well ok ada tisunya, langsung saja PD untuk mendudukinya.

(gambar dari sini)
Baru sadar setelah selesai ….loh tombol airnya yang mana?

Jadilah bereksperimen mencoba tombolnya satu-satu, dari pancuran air yang bisa membasahi bagian bawah pantat, angin yang bisa mengeringkan dan segala macamnya.

Untung waktu itu saya sendirian di kamar kecil jadi tidak ada yang heran dengan suara berulangkali air mengucur sewaktu saya bereksperimen dengan tombol-tombolnya. πŸ˜›

Toilet jenis ini saya suka karena bisa membersihkan dengan air walaupun secara otomatis.

Tapi jangan salah, shocknya belum berakhir.

Setelah mencuci tangan yang bersih, saya mendekati pintu kamar kecil untuk keluar….loh loh?!?!…pintu kok tidak terbuka otomatis. Mana ruangan toilet dingin banget lagi dan saat itu sedang musim dingin yang paling dingin.

Nunggu 10 menit siapa tau ada orang yang dateng ke toilet dan ternyata gak ada dan dengan urat malu yang sudah putus saya ketok ketok pintu toilet, siapa tau ada orang diluar.

Untunglah ada ibu-ibu OB yang bertugas membersihkan ruangan mendengar ketokan pintu itu. Walaupun kita tidak berbicara dengan bahasa yang sama, dia mengerti kalau saya belum mengerti bagaimana menggunakan kamar kecil di perusahaan.

Beliau menunjukkan cara membuka pintu toilet setelah selesai…oalah…ternyata saya harus memasukkan tangan ke dalam alat penyemprot alkohol otomatis untuk membersihkan secara total sisa bakteri yang kemungkinan ada tertinggal di tangan.

Jadi semua alat diperusahaan menjamin kebersihan secara total untuk menjaga kemungkinan serangan bakteri pada produk makanan perusahaan. Setelah mesin selesai menyemprot tangan kita dengan alkohol barulah pintu terbuka secara otomatis.

Kala itu tidak terhitung saya bolak-balik kamar kecil dalam sehari karena kedinginan dalam musim dingin. Dan jadilah tangan saya mungkin paling bersih selama hidup saya karena berulangkali dibersihkan dengan alkohol. πŸ˜›

Ya begitulah pengalaman saya yang paling ndeso dengan toilet di Jepang. Sudah hampir jam 3 pagi ini dan selamat tidur!!!!! πŸ˜€