SOLO: Sharing Komunitas & Tur Kampung Laweyan (part 3)

Setelah bercerita tentang petualangan kuliner saya di Solo, saatnya berlanjut berbagi mengenai kegiatan SOLO dari Bengawan.

Sharing Komunitas Blog


Setelah puas beristirahat sore dan bersiap untuk acara selanjutnya, kami dijemput oleh teman-teman Bengawan ke lokasi kegiatan berikutnya. Setting makan malam dibuat sangat guyub dengan lesehan dan peserta saling berdekatan. Apalagi makan malam pada hari I diiringi oleh teman-teman seniman yang membawakan musik keroncong. Khas sekali dan beraroma sangat Solo.


Setelah kenyang dan puas makan malam, Pakde Bloenthank memulai sharing antar komunitas blog pada malam itu. Setiap perwakilan komunitas blog yang datang pada malam itu berbagi mengenai kegiatan yang telah mereka lakukan di komunitas masing-masing. Setiap komunitas juga berbagi tips jika ada solusi yang mereka temukan didalam sebuah penyelenggaraan kegiatan.

Buat saya pribadi sangat menyenangkan melihat semangat  dari teman-teman Plat-M yang masih sangat baru dan sangat bergairah untuk menggerakkan kegiatan blog di Pulau Madura. Kegiatan diakhiri sekitar jam 11 malam setelah semua komunitas mendapat gilirannya untuk berbagi.

Kampung Batik Laweyan

Pagi harinya kami dijemput Pakde Bloenthank untuk melakukan wisata sejarah di kampung Batik Laweyan. Kampung batik Laweyan sudah ada sejak abad XV dan dari kampung ini pula lahir K.H. Samanhudi, salah satu tokoh pergerakan nasional yang melawan penjajahan.


Kami diantar ke kampung batik Laweyan dengan menggunakan becak. Dengan becak kami bisa menikmati pemandangan yang disuguhkan Kota Solo, kota dengan banyak bangunan lamanya yang masih terawat.


Sesampainya di Batik Putra Laweyan, meeting point dengan komunitas lain, kami langsung disuguhkan minuman tradisional dan setoples ampyang. Langsung laris pada saat itu juga. Apalagi setelah leker pisang nan lezat juga menemani pagi itu.

Setelah semua peserta datang dimulailah perjalanan tur kampung batik Laweyan. Rute dimulai dari melihat Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang dibuat bekerjasama dengan GTZ, Jerman untuk mengurangi pencemaran dari limbah proses pembuatan batik.


Lalu kita diajak untuk menelusuri dalamnya kampung batik laweyan yang didominasi oleh gang-gang sempit dan dinding-dinding rumah yang tinggi. Dinding rumah yang tinggi dibuat untuk alasan “keamanan ekonomi”. Dinding yang tinggi mencegah racikan batik atau corak batiknya dilihat oleh orang lain. Didalam satu rumah biasanya ada proses nulis batik, nyanting sampai dengan setrika batik.

Jalan-jalan yang sempit diantara rumah pengusaha batik inipun ada cerita uniknya. Konon bila ada maling masuk, satu kampung lampunya akan dipadamkan. Maling yang hendak lari biasanya nabrak tembok yang sempit-sempit itu dan tau-tau sudah klenger.

Nuansa Islam sangat kental di kampung batik ini. Nuansa ini terlihat dengan adanya Masjid yang dikenal sebagai Masjid Laweyan yang dibangun pada tahun 1546 Masehi. Masjid ini awalnya adalah sebuah sanggar yang oleh pemiliknya (Kyai Ageng Beluk) diubah menjadi sebuah masjid untuk menunjang dakwahnya.

Awalnya batik dikampung ini dikenalkan oleh Kyai Ageng Henis yang memang menyukai kesenian. Beliau juga mengajarkan cara membuat batik pada masyarakat setempat. Pengaruh beliau membuat Laweyan yang awalnya memproduksi kain tenun berubah menjadi produsen batik. Kyai Ageng Henis masuk beragama Islam setelah bertemu dengan Sunan Kalijaga.

Dulunya Laweyan menjadi salah satu kota perdagangan yang maju karena letaknya yang strategis. Saking stragesinya sampai dibangun sebuah pelabuhan yang berada pada sisi selatan kampung dan disebelah timur masjid di pinggir Kali Kabangan yang saat ini sudah tidak dapat ditemukan peninggalannya.


Pada jaman perlawanan terhadap penjajah Belanda, pada tahun 1905 muncul Serikat Dagang Islam (SDI) yang diprakarsai oleh K.H Samanhudi yang juga menjadi salah satu saudagar batik pada saat itu. Pada saat itu SDI dibuat untuk menyatukan saudagar batik muslim yang ada di Laweyan untuk menghadapi Belanda. Dibeberapa rumahpun terdapat bunker yang berguna untuk perlindungan disaat serangan.

Industri batik tulis dan cap di Laweyan sempat sangat turun ketika batik-batik sablon mulai masuk. Proses pembuatan batik yang lebih cepat dan massal membuat harga batik sablon menjadi lebih murah.


Namun pada tahun 2000-an industri batik Laweyan pun mulai membaik. Apalagi sejak dibentuknya Forum Kampung Batik Laweyan yang mencoba mengangkat potensi wisata kampung cagar budaya ini. Saat ini kita bisa melihat proses pembuatan batik di kampung ini karena pengusaha batik di Laweyan saat ini juga membuka showroomnya di rumah masing-masing seperti yang terlihat pada showroom Batik Putra Laweyan.

Setelah puas mengelilingi Laweyan akhirnya kita digiring ke acara penutupan SOLO. Para blogger disuguhkan dengan irama keroncong sambil makan siang. Bahkan Danindrapun sempat bernyanyi bersama sang biduan. Sebelum ditutup tim dari Internet Sehat juga sempat mempresentasikan mengenai beberapa fakta penggunaan internet d Indonesia. Para blogger ditantang untuk membuat konten yang positif selama berinternet ria.

Acara sendiri berakhir sekitar jam 2 siang. Terima Kasih untuk teman-teman bengawan atas jambore blogger-nya yang seru dan penuh dengan kegiatan berbagi. Sampai jumpa di kopi darat berikutnya.

Referensi:

5 thoughts on “SOLO: Sharing Komunitas & Tur Kampung Laweyan (part 3)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *