Mumpung piala dunia sedang istirahat sebentar, saya mau ngomongin soal cabang olahraga lain yang juga sangat memasyarakat d Indonesia yaitu bulutangkis.

Kok tiba-tiba ngomongin bulutangkis? Nah ini gara-hara hasutan dari twitter dari orang yang saya follow akun twitternya. Diantara mahkluk-mahkluk twitter yang saya follow ada 2 mahkluk twitter yang sangat getol ngomongin bulutangkis, dari live tweet pertandingan sampai ngomongin perkembangan dunia bulutangkis Indonesia. Yang satu teman saya nge-tweet soal lingkungan si Titiw dan temannya Widya yang akun twitternya saya follow sejak kejuaraan Thomas dan Uber tahun ini.

Mereka sangat kelihatan di timeline twitter saya karena hanya 2 mahkluk yang ini ngomongin bulutangkis. Dari sekian banyak tweet-tweet mereka di Indonesia Open Super Series kemarin ada 1 nama yang menggoda saya untuk membuka informasi mengenai dunia bulutangkis lagi.

Tweet Titiw

Tweet Widya

Nama ini adalah Ana Rovita. Siapa dia? Terus terang saya juga penggila bulutangkis walau belum pernah menonton langsung. Jaman dahulu setiap kejuaraan yang disiarkan ditelevisi pasti tidak akan saya lewatkan untuk menonton bintang-bintang bulutangkis dilayar kaca dari jaman Hariyanto Arbi, juara dunia dan pemilik smash 100 watt dan tentu saja Alan Budikusuma, pemegang medali emas Olimpiade 1992.

Tetapi sejak prestasi bulutangkis Indonesia menurun saya tidak terlalu melihat kejuaraan-kejuaraan bulutangkis lagi sampai saya melihat live tweet dari Titiw dan Widya ini. Nah balik ke Ana Rovita lagi, ternyata si Ana ini menjadi bintang di Indonesia Open Super Series 2010 kemarin. Muncul dadakan karena masuk sebagai peserta di daftar tunggu dan namanya melejit karena bisa melaju  hingga babak semifinal dan menjadi wakil putri satu-satunya di semifinal dari Indonesia.  Padahal dia harus merayap dari babak kualifikasi.

Googling Ana Rovita

Jadi penasaran dong saya dengan si Ana Rovita ini. Kalau sampai Maria Febe atau Maria Kristin saya masih mengenal namanya tetapi Ana Rovita ini saya benar-benar tidak tahu.  Dari hasil goggling ternyata si Ana Rovita ini merupakan atlet dari PB DJARUM. Wait !, PB Djarum? Ternyata saya memang masih awam neh dengan dunia bulutangkis nih sampai yang namanya PB Djarum aja saya belum kenal.

Dari profil Ana Rovita saya menjelajah situs PB Djarum sedikit lebih jauh. Sedikit tentang Persatuan Bulutangkis Djarum (selanjutnya disebut PB Djarum), PB ini dibuat oleh Djarum karena kecintaan sang pemilik PT. Djarum pada bulutangkis. Pada awalnya lokasi yang saat ini menjadi PB Djarum merupakan sebuah brak (tempat melinting rokok) yang pada sore hari digunakan oleh pegawai Djarum dan masyarakat Kudus untuk berlatih bulutangkis.

Nah sejak berhasil melahirkan Liem Swie King, atlet bulutangkis yang terkenal dengan jumping smashnya sekaligus pemegang medali All England 3 kali pada masa jayanya , maka di brak ini dibentuklah PB Djarum sejak tahun 1969.  Ternyata Alan Budikusuma dan Haryanto Arbi juga merupakan atlet alumni dari PB Djarum, oalah *tepok jidats*.

Asli baru tahu kalau tempat mencetak bintang-bintang bulutangkis ini ada di Kudus, sebuah kota kecil tidak jauh dari Semarang, tempat tinggal saya. Padahal sering ke Kudus tapi tidak pernah tahu kalau ada PB Djarum disana, asli ndeso banget.

Dan ternyata ada untungnya menjadi penggiat blogger yang tinggal didekat Kudus karena akhirnya minggu lalu saya diundang  untuk melihat Audisi Beasiswa PB Jarum.  ASEKKKK ! Pucuk dicinta ulam tiba.  Saya bisa melihat secara langsung bagaimana calon bintang-bintang bulutangkis ini dibentuk dan diasah untuk menjadi bintang bulutangkis di level dunia.

Agak tidak menyangka juga diundang ke Kudus bareng 2 mahkluk penggila bultangkis tadi ( Titiw dan Widya). Tunggu saja deh di postingan-postingan berikutnya untuk hasil kunjungan saya ke Kudus kemarin.

Jadi kalau ngomongin bintang bulutangkis nih, siapa atlet bulutangkis favoritmu saat ini?