Sudah lama sekali gw gak pernah nulis ‘serius’ aka posting soal isu lingkungan. Biasanya gw tulis di blog gw yg wordpress. Nah buat mengisi blog yang wordpress yang sudah lama sekali tidak terupdate mari kita membahas isu yang sedikit serius di buat diposting di blog ini dan wordpress sekaligus hihi.

Waktu terakhir kali menulis soal pohon trembesi, selain kemampuannya untuk menyerap karbon yang amat besar juga mampu menyerap air tanah dengan sangat kuat. Menurut gw sih kekuatan sebuah lahan untuk menyerap air saat ini menjadi sangat penting. Karena lama-lama dan sedikit lebih sedikit, lahan hijau yang berfungsi untuk menyerap air di setiap daerah berkurang.

Seperti di Semarang saja secara kasat mata lahan hijau lama kelamaan berkurang. Sebetulnya ini natural karena manusia selalu membutuhkan lahan untuk berkembang dan hidup. Akan tetapi tanpa kebijakan yang benar-benar bisa melindungi lahan hijau ini niscaya sumber air akan berkurang dengan sangat cepat melebihi kecepatan naturalnya.

Beberapa hari yang lalu, Desa Sidorejo (Sayung) yang notabene sangat berdekatan dengan Semarang sudah kesulitan untuk mendapatkan air bersih (link beritanya). Desa ini mengalami kekeringan mendekati musim kemarau tahun ini. Mereka bahkan membutuhkan bantuan air bersih untuk mencukupi kebutuhan air bersih mereka.

Sebetulnya sih ada beberapa faktor supaya kita bisa membuat persediaan air kita ada secara terus menerus (kita sebut saja dengan istilah Ketahanan Air):

  1. Kita sendiri sebagai pengguna air setidaknya bisa memberikan kontribusi untuk memperluas lahan serap air. Bisa dengan membuat biopori kalau halamanmu tidak luas (cara buat biopori bisa dilihat dipostingan saya disini) atau menanam tanaman yg bisa menyerap air dengan baik, misal rumput-rumputan. Kita bisa menanam rumput gajah, rumput gajah mini, rumput golf, dan rumput manila jika halaman rumah kita tidak terlalu luas.
  2. Pemerintah sebagai pemegang kebijakan juga harus konsisten dalam penegakan disiplin penggunaan sumber daya air agar lebih lestari. Biasanya karena kurang disiplin inilah lahan serap air kita bisa berkurang bisa karena peralihan tata guna lahan dari lahan hijau ke tata guna yang lain seperti perumahan.

Sampai sini pasti terasa agak susah ya bacanya? hihi~ Soalnya memang sekali-sekali kita harus perhatian dengan isu-isu yang ada disekitar kita. Membaca sampai paragraf diatas, bisa diambil kesimpulan pasti diperlukan lebih dari 1 pihak untuk menjaga keberlangsungan air ini. Bisa gak bayangin kita kekurangan air bersih?

Gw aja sampai panik kalau tandon kekurangan air dan penyedia air pas mati. Kegiatan yang sederhana dari mandi, nyuci baju sampai memasak semua memerlukan air.

Paling tidak kita sebagai pengguna air secara terus menerus bisa juga berkontribusi terhadap keberlangsungan persediaan air ini. Caranya bisa dari yang sederhana seperti menanam tanaman atau pepohonan di halaman kita. Atau secara bijak berhemat dalam penggunaan air, misal menggunakan air bekas mengepel rumah untuk menyiram tanaman. Β As simple as that.

Soalnya buat di Semarang sendiri gw sudah agak ngeri sih melihat ruang hijau Semarang yang besar seperti daerah Gunung Pati sudah mulai beralih fungsi lahannya menjadi area perumahan. Lahan hijau yang ada diseberang rumah saja (baca Gombel Lama) lahan hijaunya sudah beralih fungsi menjadi area permainan golf. Β Terbayang gak sih berkurangnya kecepatan penyerapan air dengan kebutuhan air kita yang juga semakin besar akibat alih tata guna lahan tadi? Kalau mau dibayangin sedikit pasti bisa mengerti deh.

Kamu punya pendapat tentang ketersediaan air ini?

HINT tentang air:

  • 70% dari air tawar terjebak di puncak es
  • Kurang dari 1% dari air tawar dunia yang siap dimanfaatkan
  • 6 negara (Brazil, Rusia, Kanada, Indonesia, Cina, dan Kolombia) memiliki cadangan 50% air tawar dunia
  • Sepertiga populasi dunia tinggal di negara-negara yang sulit air