Travelogue: Jelajah Gizi Race

Hari kedua Jelajah Gizi ternyata gak kalah seru dari hari pertamanya, peserta jelajah gizi dibuat lebih aktif dan hiperaktif hahaha~

Dihari kedua ini kami dibagi dalam beberapa tim untuk mengumpulkan poin hingga kegiatan hari kedua selesai. Poin-poin ini bisa didapatkan melalui game-game yang disediakan oleh panitia dari pagi hingga siang hari, mirip-mirip Amazing Race gitu, jadi aku nyebutnya Jelajah Gizi Race yah? *kriuk*

Pasar Argosari


Lokasi pertama Jelajah Gizi Race kali ini adalah Pasar Argosari, Wonosari. Setiap tim diberi 20 petunjuk untuk mencari dan menemukan makanan yang dimaksud dengan uang hanya Rp.10.000.

Tm yang paling banyak menemukan makanan yang dimaksud dan menghabiskan uang yang paling sedikit mendapatkan poin yang paling besar.

Tim Bobung sedang menawar harga

Buat yang tidak terlalu sering ke pasar tradisional, kegiatan ini menjadi challenging loh. Challenging karena kita dipaksa untuk berinteraksi dengan penjual-penjual di pasar tradisional untuk menemukan makanan maupun bahan makanan di pasar tersebut.

Kami cukup dibuat berkeringat untuk menemukan bumbu-bumbu maupun panganan tradisional yang ada di pasar. Dikegiatan ini kita dipaksa untuk mengingat kembali banyak panganan pasar yang bergizi dan enak dibandingkan dengan jajanan-jajanan masa kini.

Keringat Dingin Di Desa Bobung

Selesai blusukan di Pasar Argosari, kami dibawa ke Desa Bobung. Didesa yang ternyata desa sentra kerajinan batik, saya dan beberapa tim dibawa ke PAUD Prasajo. Disini kami diadu untuk bercerita. Siapa yang ceritanya dianggap paling menarik oleh anak-anak dia akan mendapatkan poin yang paling besar.

Dan saya sukses dibuat keringat dingin oleh tim saya sendiri, tim bobung. Bagaimana tidak mengeluarkan keringat dingin kalau saya dipaksa untuk mendongeng didepan anak-anak balita ini.

Mbak Suci Luwes Mendongeng

Melihat Mbak Suci yang luwes bercerita didepan anak-anak ini alhasil membuat keringat dingin saya mengalir lebih deras.

Saya Berusaha Mendongeng & Berkeringat Dingin

Walau sudah menyiapkan bahan cerita tetap saja sangat kelihatan perbedaan pengalaman seorang ibu yang sudah mempunyai anak dengan saya yang sama sekali tidak punya pengalaman dengan anak-anak hahaha~ Saya dengan sukses memproduksi banyak keringat dingin di game ini.

Gathot Tiwul Yu Tum

Lokasi berikutnya kami mengunjungi warung Gathot Tiwul Yu Tum yang legendaris. Legendaris karena makanan ini banyak dicari oleh orang-orang untuk menjadi oleh-oleh, padahal kedua makanan ini dibuat dari bahan baku yang sederhana yaitu singkong.

Gathot dan tiwul ini masih dibuat dengan mempertahankan cara masak tradisional sehingga hanya bertahan 2 hari untuk dibawa sebagai oleh-oleh. Kedua jenis makanan tradisional ini masih dibuat dengan tembikar tanah liat dan kayu bakar. Eh, omong-omong ada yang belum tau dengan yang namanya tiwul dan gathot?

Tiwul & Gathot

Tekstur tiwul menyerupai tekstur nasi tetapi lebih kasar. Warnanya kuning kecoklatan dan mempunyai rasa manis. Diatas tiwul dan gathot ini diberi parutan kelapa sehingga terasa lebih gurih. Dan tiwul ini bisa dimakan dengan lauk loh, jadi bisa dianggap sebagai pengganti nasi.

Nah kalau gatot lebih unik lagi bentuk dan cara pembuatannya. Tekstur gatot kehitaman dan ini adalah efek dari proses fermentasi dari bahan baku singkong. Jangan khawatir dengan teksturnya yang tidak menarik ini yah karena sebetulnya dibalik warna hitam ini gathot mengandung bakteri lactobacillus dan jamur. Bakteri ini aman dan tergolong sebagai bakteri prebiotik yang baik untuk pencernaan kita.

Untuk yang suka rasa asam kelihatannya akan lebih menyukai gathot karena makanan ini terasa sedikit asam dengan tekstur yang kenyal-kenyal.

Walaupun warung ini terletak di Wonosari yang merupakan daerah pelosok tetapi pengunjung yang datang ke warung ini sangatlah ramai. Ini membuktikan kepopuleran kedua jenis makanan ini.

Wrap Up: Pantai Indrayanti & Leisure Time

Hari kedua ini ditutup dengan berwisata mengunjungi Pantai Indrayanti. Peserta Jelajah Gizi diberikan permainan-permainan dan pertunjukan sehingga kelelahan dari pagi menghilang.

Saya Bermain Limbo

Saya ikut dalam permainan limbo dan percayalah ukuran diameter perut tidak berpengaruh pada kelenturan bermain limbo *grinz*

Berlomba Menghabiskan Makanan

Kami banyak bersenang-senang di Pantai Indrayanti hingga malam hari datang. Setelah selesai makan malam, diumumkan pemenang Jelajah Gizi Race hari itu. Pemenangnya ternyata tim indrayanti yang memang kelihatan paling semangat dengan yel-yelnya yang membahana dari pagi hari.

Malam itu kami kembali ke Yogyakarta dan menginap di Hotel Ibis Styles, Dagen. Keesokan harinya, kami hanya menghabiskan waktu untuk membeli oleh-oleh sebelum pulang dan kembali ke Jakarta.

Semoga tahun depan Jelajah Gizi lebih seru yah! Sampai ketemu di Jelajah Gizi tahun depan !

Courtesy:
1. Situs Gathot Tiwul Yu Tum
2. Review Ibis Styles Yogyakarta

 

One thought on “Travelogue: Jelajah Gizi Race

  1. I see interesting articles you’ve got here, you should
    show your content to much bigger audience and make it go viral.
    I read about sneaky method to bring 1000s of
    visitors to any website everyday , just search in google for:
    Coisin’s tips & tricks

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *