Jakarta Dikala Hujan

Kota ini memang tidak berdaya ketika hujan besar sudah mengguyur dengan hebat. Kemarin sore Jakarta dilanda hujan yang lebat. Memang sudah mulai musim hujan. Dan untung juga saya geser ke Umaku untuk bekerja bareng Mbak Ainun, Tika, Lucy dan Ranume karena sekitar jam 5 ada tiang listrik yang rubuh di Jl. Bangka dan pengaruhnya bisa sampai kantor karena area tersebut tidak jauh dari gedung kantor.


Hujan yang pertama sudah membuat Tika 2 jam di jalan hanya untuk mencapai Mampang dari daerah Blok M, luar biasa. Selanjutnya kami menghabiskan banyak waktu dan bekerja di Umaku sampai malam karena kami sadar Mampang akan lumpuh total ketika hujan seperti ini datang. Hujan lebat memang datang beberapa kali kemarin sore.


Kami memutuskan keluar dari Umaku sekitar jam setengah 9 malam dan kondisi di jalan bisa dilihat pada foto diatas. Lalu lintas padat merayap untuk kendaraan roda 2 dan hampir berhenti untuk kendaraan roda 4. Saya mengantar Nume ke kantornya dulu di Pejaten untuk mengambil beberapa barang. Untunglah Nume menemukan tebengan pulang hingga Bintaro dengan mobil dengan teman kantor. Saya pikir juga sebaiknya menunggu macet selesai sampai jam 11 malam karena kemacetan masih dimana-mana. Akhirnya saya menunggu di apartemen Mbak Ainun sampai jam 11 malam ketika lalu lintas sudah sangat lancar.

Memang sudah tidak bisa dihindari kota ini membutuhkan alternatif transportasi massal seperti MRT/Monorel atau bentuk kereta dalam kota lainnya selain memperbaiki jaringan pembuangan air di ibukota. Semoga gubernur Jakarta yang baru bisa mewujudkannya.

Bagaimana pengalamanmu kemarin?

28 thoughts on “Jakarta Dikala Hujan

  1. pengalamanku?

    aku menghabiskan sore dengan nonton Thor dan makan Kupang Kraton, kemudian kopdar dengan teman di warung kopi Java Dancer.
    malam ditutup dengan beli martabak keju yang ditambahi toblerone.

    bhihihik

    anyway, menurutku proses pembangunan infrastruktur transportasi massa 3-5 thn ke depan ini akan sangat menyakitkan kalo publik ga mulai mengubah budaya mobile nya.

    kita lihat, 3-5 thn ke depan apakah minat dan kebutuhan transportasi massal yang tersedia (transjakarta/commuter line) akan meningkat?
    saya sih cukup yakin ketika permintaan meningkat, penyedia (yang sekarang) akan mampu meningkatkan pelayanan. amin.

  2. malam itu aku memilih jalan kaki dari blok m ke kost. cuma setengah jam. kalo ngotot nunggu bus dan pasrah pada kemacetan mungkin bisa satu jam kemudian baru sampe kosan

  3. Jumat malam kala itu, masih cukup beruntung karena pulang nggak pake kehujanan. Cuman kaget pas di Jalan Pejaten Barat Raya yang biasanya lancar, hari Jumat malam itu padat merayap dan sesekali berhenti. Duh, kok tumben ya. Aku memutuskan untuk berhenti sejenak dan makan di warung sate madura yang ada di pinggir jalan sembari menunggu macet. Memang sih, setelah kurang lebih 45 menit, arus lalin sudah sedikit lancar. Selesai makan, aku meneruskan perjalanan ke kost yg memang ga terlalu jauh dari Pejaten Barat Raya. Nah, yang bikin bengong adalah sepanjang jalan buncit raya ke arah ragunan yg macet total. Pikirku sih paling cuman sampe di depan rs jmc. Eh, ternyata, buntut kemacetan masih panjang ke belakang, mungkin mulai dari Mampang. Beberapa sepeda motor mengambil jalur melawan arus di sisi seberang jalur yang kena macet. Mungkin krn udah ga sabar kali ya. Kira – kira jam 10 malam lewat, iseng ngecek jalanan, Eh, lah kok masih macet. Sempet mikir ini kapan kelar macetnya ya.

    Gitu. (ini komen atau semi posting ya?)

  4. Cckckck..Jakarta benar-benar parah ya
    untuk pulang saja sampai harus nunggu jam 11 malam.
    selalu salut sama orang yang bisa enjoy tinggal di Jakarta karena saya tidak yakin bisa seperti itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *