Jakarta dan Semarang

SONY DSC

03:41
Pagi ini aku membaca postingan Dendi tentang kerinduannya akan Semarang. Kota yang sama-sama kami tinggali cukup lama. Dan akhirnya aku sadar bahwa akupun merindukan kota itu.

Meninggalkan Semarang begitu saja setelah aku mendiaminya selama 14 tahun. Datang ke Semarang di pertengahan 1998 untuk memulai kuliah di UNDIP. Pertama kali datang di Semarang aku merasakan bahwa kota ini cukup lambat dan sepi. Ya, untuk seseorang yang terbiasa dengan kehidupan Jakarta yang cukup cepat, Semarang terasa lambat bagiku. Tetapi akhirnya hal itulah yang membuatku bertahan cukup lama di Semarang.

Aku memilih untuk tinggal di area Semarang atas. Aku menyukainya. Area kota yang tidak terlalu ramai. Aku tidak suka tinggal di kota bawah yang penuh keramaian. Sampai akhirnya ketika kelurgaku memintaku untuk membantu mencarikan rumah kontrakan di Semarang, akupun memilih area perumahan yang tidak jauh dari kosku berada. Pilihan yang tepat sampai akhirnya kami mempunyai rumah disana hingga kini.

Aku meninggalkan Semarang tanpa kata perpisahan. Keputusan yang kuambil memang sangat cepat. Tidak sampai seminggu proses meninggalkan Semarang dari sebuah ide di kepala sampai akhirnya memutuskan untuk tinggal dan bekerja di Jakarta, kota kelahiranku.

Bahkan aku meninggalkan Semarang tanpa perpisahan yang cukup dengan teman-teman Loenpia, salah satu keluarga yang aku temukan dan aku punya disana. Kerinduan akan Semarang kadang menyeruak tetapi aku mengacuhkannya. Selama hampir 1,5 tahun di Jakarta, aku hanya menengok Semarang sekali saja.

Aku rindu karena kota itu selalu memberikan aku kekuatan ketika aku sedang berada di bawah. Ketika aku merindukan seseorang dan tidak mungkin menjumpainya, Semarang selalu memberikan kekuatan melalui suasana atau orang-orang yang tinggal disana.

Aku rindu dengan kedatangan teman yang tiba-tiba saja datang pada subuh hari setelah jam kerjanya dan sekedar mengajak makan bubur ayam menjelang pagi. Ngobrol tentang kehidupan yang kami lewati bersama di kota tersebut.

Aku masih harus membiasakan dengan Jakarta, kota kelahiranku. Aku masih mencari orang-orang yang dapat memberikan kekuatan untuk bertahan di kota ini. Kekuatanku memang berasal dari orang-orang yang berada di sekitarku. Aku kadang masih merasa get lost di tengah hidupku disini.

03:56
Jam menunjukkan waktu menjelang subuh dan ternyata aku masih merindukan seseorang. Sudah lama aku tidak merasakan rasa seperti ini. Aku belajar lagi untuk melepas seseorang walau aku merindukannya ketika aku tidak terpejam.

Incase kamu membaca postingan ini, terima kasih ya sudah memberikan rasa ini lagi. Sudah hampir lupa rasanya merindukan seseorang badly *grinz* Semoga kita sama-sama bisa bertahan di kota ini walau tidak bersama.

~ Dian Adi Prasetyo, dikala tidak bisa memejamkan mata ^^

14 thoughts on “Jakarta dan Semarang

  1. Whiz sekarang khan pulang kampung di rembang sana. Bisnis online.

    *bantu jawab*

    Aku juga kangen semarang. 7 kali ke semarang gara gara sudah punya banyak temen di sana. Komunitas Orart Oret. Anaknya guyup rukun dan gak jaim.

  2. Sebagai cah purwodadi, Semarang juga sangat penting buat aku. Lha gimana, di Purwodadi ga ada mal buat beli baju, ya larinya ke Semarang wehehehe maklum wong ndeso…

    Semarang juga penting karena di sana tempat mayoritas keluarga bermukim, yang hampir minimal dua kali setahun kukunjungi, lha sekarang makin jarang soalnya saya sudah di Yogya… :”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *