Beberapa hari yang lalu saya diundang oleh Citi Peka menghadiri Citi Microentrepreneurship Awards 2015 (CMA 2015). Sebuah ajang penghargaan yang diselenggarakan untuk pelaku wirausaha skala kecil. Kegiatan ini merupakan kerjasama Citi Peka dengan UKM Center Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia.

Citi Peka aktif sejak tahun 1998 dan menjadi payung untuk seluruh kegiatan kemasyarakatan Citi Indonesia yang disupport oleh Citi Foundation.

Pagi itu sebelum sesi pemberian penghargaan, Citi Peka mengundang beberapa pembicara untuk memberikan inspirasi kepada pelaku wirausaha yang pagi itu datang ke CMA 2015. Dari beberapa pembicara, saya sangat terkesan dengan sharing yang diberikan oleh Pak Rully Lesmana (UD Surya Abadi). Pak Rully ini adalah eksportir untuk telur asin ke banyak negara sampai ke negri Belanda.

Kebayang gak kalau untuk telur asin aja bisa dikirimkan ke Belanda dengan kontainer? Tentu saja tidak sesimpel ketika kita mengirimkan barang pecah belah karena telur asin adalah barang yang sangat rentan dengan udara dan hal-hal lainnya.

Mengapa terkesan dengan Pak Rully? Karena ketika semua orang saat ini “ribut” dengan pasar bebas ASEAN, Pak Rully sudah mendahului pasar dengan mengirimkan produk telur asinnya sampai ke luar negri. Tentu saja untuk mencapainya melalui proses yang panjang.


Untuk menjadi seorang pelaku usaha yang handal dibutuhkan banyak kegagalan sebagai bahan ujian untuk menjadi seorang pengusaha yang sukses. Kegagalan mengirimkan sekontainer telur asin adalah salah satu dari beberapa cerita yang dishare Pak Rully pagi itu.

Fakta lain yang menarik adalah kalau untuk urusan telur asin saja di Singapura ada 20 perusahaan eksportir dari Cina yang mendapatkan sertifikasinya untuk mengirimkan produknya ke Singapura. Tebak berapa perusahaan yang berasal dari Indonesia? Hanya satu! Ya perusahaan Pak Rully ini.

Pasar bebas ASEAN atau lebih dikenal dengan MEA memang menjadi pembicaran akhir-akhir ini. Banyak yang tidak sadar kalau pasar bebas ini sudah dimulai sejak 1 Januari 2016. Dr. Eugenia Mardanugraha (kepala UKM Center FEB UI) mendorong pelaku UKM untuk menjadikan pasar bebas ini sebagai sebuah kesempatan dibandingkan sebagai sebuah ancaman.

Dengan pasar bebas, para pelaku UKM dapat membangun jaringannya lebih luas dan tentu saja dapat menjual produk-produknya sampai ke luar Indonesia seperti yang sudah dilakukan oleh Pak Rully. Caranya dengan terus memperbaiki kualitas produk, kualitas layanan dan terus menerus update dengan informasi dan pelatihan-pelatihan terkini yang sudah disediakan misalnya oleh departemen perdagangan.

Pembiacara lain Mas Goris Mustaqim (tokoh muda penggerak socialpreneur) share pentingnya sebuah packaging dari sebuah produk. Walaupun produk itu hanya sebuah keripik jika disertai dengan packaging yang menarik akan meningkatkan kualitas produknya untuk menembus pasar internasional.

Niki Enak - Teh Gelugur

Foto dari Mbak Ainun

Saya kemarin membeli keripik ikan Bilis dan Garci-tea (teh daun asam gelugur) yang mempunyai packaging dan rasa yang sangat menarik. Keripik dari Niki Enak (CV Dua Putri Kembar, Pontianak) ini packagingnya sangat rapi dan mudah untuk dibuka. Dan memberikan sistem buka-tutup dalam kemasannya sehingga keripik akan selalu tetap terjaga renyah. Untuk packaging seperti ini Niki Enak hanya berharga Rp 10.000. Sungguh suatu harga yang sangat kompetitif.

Teh Daun Gelugur 01
Dan akhirnya memang Ibu Sasjunita (pembuat Garci-tea) yang berasal dari Sijunjung Sumatera Barat ini yang berhasil menjadi Wirausaha Mikro Terbaik di CMA 2015. Ketika mencoba teh ini saya merasa “wah kok tehnya enak sekali padahal tanpa gula.” Saya termasuk orang yang tidak menyukai rasa asam tetapi rasa asam pada Garci-tea ini pas sekali.  Ibu Sasjunita mendorong daun asam gelugur untuk menjadi produk teh karena manfaatnya banyak sekali untuk badan kita dan memang tanaman khas di Sumatera Barat.

Jadi apa inpirasimu pagi ini?

Selamat menikmati hari Senin teman-teman ^^