Catatan: blogpost ini ditulis tanggal 25 Januari 2016

Sudah 9 hari yang lalu Alexandra Abigail Prasetyo (Abby) dilahirkan oleh Arianna di Rumah Sakit Bersalin Asih sekitar jam 08:55 pagi. Perasaan saya campur aduk, melihat proses persalinan yang dialami Arianna secara langsung dan menjadi saksi bagaimana proses Abby memulai kehidupannya di dunia.

Memiliki Abby berarti membuang seluruh pengalaman hidup yang telah kami punya selama ini dan belajar dari awal bagaimana menjadi orang tua.

Perasaan saya mengharu biru melihat Abby dilahirkan. Setelah Abby dilahirkan, dia langsung dimasukkan ke dalam inkubator supaya aliran oksigennya mengalir ke seluruh tubuh secara baik dan juga menghangatkan badannya.  Selama di inkubator, Abby terbangun cukup lama dan saya mulai mengajak dia bercakap-cakap.


Saya yang cukup jarang menangis ternyata tidak kuat menahan diri untuk tidak terharu dan menangis cukup lama ketika bercakap-cakap dengan Abby. Selama 1,5 jam pertama, saya melihat bagaimana Abby mulai beradaptasi dengan dunia sekitarnya walaupun mungkin pandangan matanya hanya bisa melihat beberapa centimeter di depan dia.

Sejak saat itulah petualangan saya dan Arianna sebagai orang tua dimulai. Selama di rumah sakit, kami belajar dari para perawat bagaimana memegang Abby yang buat kami tampak cukup rapuh. Para perawat di RSB Asih sangat sabar mengasuh Abby selama dia dirawat di sana, dan sabar juga mengajari kami berdua bagaimana awalnya menjadi orang tua.

Di hari ke 3 di rumah sakit, kami dibuat ketar ketir karena Arianna masih belum bisa mengeluarkan ASI dan berat badan Abby sudah berkurang mendekati ambang batas yang diperbolehkan. Untunglah banyak teman-teman yang membantu menyebarkan informasi untuk mencari donor ASI dan kami mendapat berkah karena Tika mau menjadi donor ASI untuk Abby dan menjadi Ibu ASI yang sempurna karena beberapa hari sebelumnya melahirkan Zora.

Lima hari pertama di rumah sakit benar-benar menjadi pembelajaran bagi kami sebagai orang tua. Belajar bagaimana memegang Abby dan belajar bagaimana saking menguatkan dan tidak panik ketika kondisi Abby turun.

Terima kasih kami ucapkan untuk semua staff Rumah Sakit Bersalin Asih yang membantu kelahiran dan merawat Abby, terutama Dokter Benny yang menjadi dokter utama ketika operasi dan selalu memberikan semangat selama Arianna berjuang mengeluarkan ASInya.

Oh well, mari dimulai petualangan kami berikutnya sebagai orang tua.