Hitchhiking (also known as thumbing, hitching, or autostop) is a means of transportation that is gained by asking people, usually strangers, for a ride in their automobile or other vehicle. A ride is usually, but not always, free.
Itinerants have also used hitchhiking as a primary mode of travel for the better part of the last century, and continue to do so today.~ Wikipedia

Nebeng adalah kata yang sangat populer di Indonesia. Kalau ada orang yang tidak pernah merasakan nebeng, mungkin temannya kurang banyak hihi — *kaboer*. Nah, tapi kebanyakan orang di Indonesia nebeng dengan orang yang dikenal, misal teman, kolega atau keluarga. Berbeda dengan budaya di Amerika sono misalnya yang suka melakukan hitchike atau nebeng dengan orang asing di tengah jalan.

Kenapa tiba-tiba ngomongin nebeng nih? Soalnya kali ini saya pengen ngomongin GrabHitch. Tau GrabHitch ketika Grab melakukan aktivitas akuisisi driver untuk program ini di gedung klien. Waktu itu sih bingung kenapa Grab mau mengakuisisi driver dari pekerja kantoran. Wondering apa ada pekerja kantoran yang mau jadi driver GrabHitch.


Ternyata GrabHitch ini adalah layanan Grab untuk aktivitas nebeng, aktivitas yang sangat populer di antara pekerja kantoran di Jakarta. Grab memfasilitasi pekerja kantoran untuk menemukan teman tebengan — baik pemberi maupun pencari tebengan — karena tantangan untuk para pekerja kantoran ini adalah menemukan pemberi tebengan yang searah.

Layanan GrabHitch ini sebetulnya bagus untuk pekerja dengan jarak yang jauh seperti rumah di Depok dan lokasi kantor di Blok M. Karena banyak pekerja yang mengendarai motor sendirian selama perjalanan jarak jauh ke kantor ini.

Walaupun sudah banyak yang menggunakan Commuter Line untuk perjalanan jarak jauh tapi yang masih menggunakan motorpun tidak kalah banyaknya — karena rumah di Lebak Bulus jadi melihat dengan mata kepala sendiri betapa banyaknya pekerja dari Depok menggunakan motor menuju Jakarta.

Saya ngetes naik GrabHitch sekali kemarin dengan rute Lebak Bulus – Blok M sekalian nanya-nanya kenapa sang driver mau ikutan GrabHitch. Jawabannya “lumayan bisa ngurangin biaya bensin sehari-hari kalo ada yang nebeng”.

Berbeda dengan GrabBike, pemesanan GrabHitch memerlukan waktu yang lebih lama, sekitar 10 – 30 menit. Mencocokkan tujuan pemesan dengan pemberi tebengan. Kalau mau booking in advance malah lebih bagus sih, misal 7 hari sebelumnya. Tapi kalau pekerja di Jakarta jarang ada yang punya jadwal tetap in advance.

Saya sebetulnya tertarik buat jadi pemberi tebengan GrabHitch nih kalau pagi, tapi kalau lagi suka hujan di pagi hari seperti akhir-akhir ini ribet juga jadinya.

Bagaimana menurutmu soal GrabHitch ini?