Kesukaan saya terhadap arsitektur Gereja Stefanus salah satunya karena bisa lebih mendekatkan antara Romo dan umatnya.

Kebetulan entah kenapa kami lebih sering mendapatkan pelayanan misa oleh Romo Martin van Ooij, SCJ. Salah satu Romo yang cukup sepuh dan cukup ramah terhadap umat gereja. Beliau selalu duduk di dekat altar 30 menit sebelum misa mulai dan berkeliling gereja menyalami umat yang hadir di 15 menit sebelum misa mulai.

Satu-satu umat yang dapat diraihnya akan disapa, dijabat tangannya serta diajak beramah tamah. Beliau selalu menekankan untuk datang dan pulang dari Gereja dengan hati gembira.

Hari minggu kemarin adalah perayaan Tritunggal Mahakudus. Untuk mudahnya melihat orang Katolik membawa Tritunggal Mahakudus itu ketika kami membuat tanda salib.

Ada beberapa hal yang berkesan di misa kemarin, pertama Romo Martin mengajak untuk mendoakan seorang anak muda yang tiba-tiba menderita kanker dan tidak mungkin terselamatkan secara medis. Romo seperti mengingatkan bahwa kesehatan yang kita punya sekarang sangatlah berharga dan harus kita jaga selalu.

Hal kedua saya sadar kenapa saya menyukai ritual misa. Dalam setiap ritual misa ada Salam Damai di mana kami saling berjabat tangan satu sama lain, menyapa dan memberikan salam damai. Ketika bersalaman, kami dilatih untuk tersenyum ketika menjabat tangan orang asing di sekitar kita.

Kelihatannya budaya ini lah yang membuat orang Katolik terlihat lebih ramah di kehidupan sehari-hari.

Have a good monday!

PS: Gambar Romo Martin diambil dari situs Gereja Santo Stefanus.

Kesan Pertama Dengan Gereja Stefanus